Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Perempuan Dan Pergerakan

Minggu, Juni 20, 2021 | 19:17 WIB Last Updated 2021-06-20T11:17:59Z
Foto: Penulis.


GARDANTB | Bima.-- Perjuangan meningkatkan kualitas hidup perempuan adalah perjuangan memperbaiki kualitas hidup separuh masyarakat. Perempuan mempunyai dunianya sendiri yang harus di perjuangkan olehnya. Dalam dunia pergerakan, perempuan mempunyai kekuatannya tersendiri. 


Pergerakan perempuan yang diprakarsasi oleh R.A Kartini, yang menuntut adanya kebebasan perempuan berpendidikan yang sama dengan laki-laki. Pada saat itu, isu mengenai kesetaraan gender belum ramai diperbincangkan. Walaupun tidak bergerak dalam wadah organisasi, yang dilakukan oleh R.A Kartini itu mampu menginspirasi para perempuan untuk memikirkan posisi kesejahteraan sosial perempuan.


Perjalanan sejarah gerakan perempuan di indonesia, dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, dan keterlibatan kehidupan bermasyarakat muncul bersamaan dengan hadirnya gerakan kebangsaan pada masa penjajahan belanda. 


Kebangkitan gerakan perempuan pada masa kolonial ditandadi dengan penyelenggaraan Kongres perempuan pertama pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Jogjakarta. Kongres ini bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dalam berpendidikan dan pernikahan.


Dari masa ke masa perempuan sudah banyak berkontribusi untuk membangun negri ini. Tidak terkecuali, dalam sejarah perjuangan bangsa indonesia pun mencatat banyak nama perempuan-perempuan indonesia yang ikut berjuang demi kemerdekaan bangsa ini. 


Sama halnya seperti Cut Nyak Dhien, yang mampu menggantikan peran suaminya sebagai pemimpin perjuangan rakyat aceh melawan penjajah, Kartini melalui tulisan-tulisannya mencoba mengangkat hak-hak perempuan, dan Rohana Kudus yang mendirikan usaha bersama dan surat kabar perempuan pertama di indonesia telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah negri ini.


Perempuan memiliki kekuatan dan kemampuan yang besar dalam arah pergerakannya. Tetapi, terkadang pemikiran dan gerakan perempuan di kerdilkan oleh lingkungannya sendiri. Maka perlu adanya pelatiha gender untuk semua perempuan dan laki-laki, sehingga adanya organisasi-organisasi perempuan yang benar-benar memiliki arah pergerakan yang jelas dan mampu memberikan solusi kongkrit terhadap carut marutnya berbagai masalah perempuan di Indonesia.


"Sekali bendera dikibarkan, hentikan Ratapan dan Tangisan. Mundur satu langkah adalah sebuah bentuk penghianatan".


Penulis: Sulasmin, Kopri PMII Komisariat Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Bima.

×
Berita Terbaru Update