Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan



Indeks Berita

Bentuk Ungkapan Tradisional "Nggahi Sancu" Pada Masyarakat Desa Sai

Sabtu, September 25, 2021 | 21:32 WIB Last Updated 2021-09-25T13:33:39Z
Ist.


Hasil penelitian, terdapat 39 (tiga puluh sembilan) ungkapan tradisional nggahi sancu pada masyarakat desa Sai. Dalam melakukan analisis data peneliti menggunakan teori semiotik. Analisis semiotik, yakni semiotik yang memperhatikan atau menelaah sistem ungkapan yang dihasilkan manusia berwujud tanda, lambang serta icon (persamaan, replika, atau simulasi), baik dalam wujud kata maupun dalam wujud kalimat, jika dilihat dari butir ungkapan nggahi sancu di bawah ini.


Adapun ungkapan-ungkapan nggahi sancu yang mewakili sumber acuan melalui sebuah bentuk replikasi, simulasi, imitasi, kemiripan atau persamaan "icon", sebagai berikut:


Data No. 01

‘isi nangga’

(biji nangkah)


Ungkapan di atas, mewakili (icon) sebuah sumber acuan dari sebuah bentuk replika, imitasi dan persamaan antara sikap individu dengan biji nangka tersebut. Kriteria "biji nangka" menunjukkan sifatnya yang berlendir, berminyak dan licin. Ungkapan yang menyamakan suatu benda dengan karakter manusia tersebut, diartinyakan sebagai seorang yang tidak berkomitmen atau tidak konsisten dalam pembicaraan dan tindakannya.


Data No. 02

‘mpula wanga maju’

(bodoh kayak tanduk rusa yang tidak memiliki lobang)


Ungkapan di atas, memberikan persamaan atau kemiripan (icon) dalam ungkapan antara individual yang bodoh (tidak tahu sama sekali) dengan model tanduk rusa. Model "tanduk rusa" tersebut tidak memiliki lobang sama sekali beda dengan tanduk-tanduk hewan lain, misalnya; tanduk sapi, kerbau, kambing dan lain-lain semua memiliki lobang pada tanduknya. Ungkapan semacam mengartikan bahwa individu yang bodoh sama dengan tanduk rusa tersebut. Ungkapan-ungkapan seperti ini juga memberikan sebuah gambaran bahwa seseorang atau individual tidak tahu dalam mengerjakannya apa yang harus ia lakukan.


Data No. 03

‘bune mabu ni’u satunde’

(seperti jatuh buah kelapa)


Ungkapan di atas, mewakili sebuah sumber acuan icon (sebuah bentuk replika, imitasi dan persamaan) antara seseorang yang memiliki perasaan terkejut pada hal-hal tertentu dengan mencontohi kepala yang jatuh. Ungkapan yang menyamakan sebuah benda yang jatuh dengan perasaan seorang tersebut, mengartikan bahwa perasaan seseorang yang sedang menginginkan sesuatu, misalnya; perasaan jatuh cinta pada seorang wanita, perasaan ingin memiliki baju baru dan perasaan ingin memiliki mobil dan lian-lain. Jadi ungkapan tersebut menggambarkan keinginan seseorang terhadap sesuatu yang dilihatnya.


Data No. 04

‘ai na weli sahe dei ndano’

(jangan membeli kerbau di waduk)


Ungkapan di atas merupakan sebuah perumpaan ‘icon’ Bahasa yang memadukan karakteristik hewan "kerbau" dengan perbuatan atau sifat manusia. Karena karakter kerbau menunjukkan pada sifatnya sebagai pemalas, bodoh, keras kepala dan tidak mau tahu. Juga karakter kerbau tersebut selalu berdiam diri dalam suatu tempat atau danau "waduk" yang berlumpur, ia tidak mengenal suatu yang kotor, akan tetapi yang terpenting ia mandi. 


Oleh karena itu, ungkapan semacam ini menunjukkan bahwa seorang yang pemalas tidak ubahnya dengan seekor kerbau. Misalnya; dalam proses jual beli atau transaksi yang dilakukan oleh pembeli kepada penjual harus melihat langsung barang tersebut. Jadi tanpa melihat rupa dan bentuknya akan mengurangi nilai-nilai dalam adab-adab jual-beli, karena hasil pembicaraan memungkinkan tidak sama dengan yang dilihatnya.


Data No. 05

‘ntolu kanggela’

(bertelur tidak secara beransur-ansur)


Ungkapan ini di atas, merupakan sebuah ungkapan yang mencerminkan perilaku seekor ayam (ayam sedang bertelur) dengan tindakan manusia. Karena ciri-ciri ayam berkembang biak atau bertelur selalu tidak teratur. Ungkapan ini adalah sebuah simulasi dari sifat atau karakter manusia pemalas dalam melakukan kegiatan-kegiatan tertentu. Perilaku semacam ini menujukkan seseorang yang tidak memanfaatkan waktu dengan sebaiknya begitupun sebaliknya sifat seekor ayam yang bertelur (sealalu tidak terjadwalkan).


Data No. 06

‘keka ra ntadi’

(kakatua dipelihara)


Ungkapan di atas, mewakili (icon) sebuah sumber acuan dari persamaan atau imitasi antara karakter manusia dengan burung kakaktua tersebut. Kriteria" kakaktua yang dipelihara" menunjukkan sifatnya yang mampu meniru gaya Bahasa manusia. Ungkapan ini dalam masyarakat Sai dapat diartikan sebuah kecakapan atau kelebihan seseorang yang sangat pandai berbicara, salah satu contohnya dalam berpidato. Ungkapan ini adalah salah satu simulasi atau penyamakan seekor burung kakatua dengan sifat lincah atau pandainya seseorang tersebut dalam berbicara.


Data No. 07

‘tabea bune udi made’

(tabiat kayak biawak yang pura-pura mati)


Ungkapan di atas adalah penyamakan karakter binatang dengan tabiat manusia berprilaku tidak mau tahu dengan masalah yang dihadapinya. Karakter "biawak" ketika mendapatkan masalah (dipukuli oleh manusia) malah berpura-pura mati atau berdiam diri, tanpa melahirkan diri pada saat dipukuli tersebut. Karakter binatang biawak ketika melihat orang dia akan diam sejenak untuk memastikan keadaan orang pergi. Ungkapan di atas, bermakna sifat seseorang yang lari dari kenyataan hidup.


Data No. 08

‘sepe maju’

(pinjam kayak rusa)


Ungkapan di atas adalah persamaan antara perilaku hewan (rusa) dengan perilaku atau tabiat manusia. Kata "sepe" artinya pinjam, sedangan kata “maju” artinya rusa atau kijang. Ungkapan sepe maju diambil dari dogeng antara perilaku anjing dan rusa, dimana dalam cerita rakyat (Sai) yang memiliki tanduk adalah anjing akan tetapi dipinjamkannya ke rusa. Namun rusa tidak mengembalikan tanduk anjing tersebut sampai sekarang. Ungkapan semacam ini didalam masyarakat Sai menunjukan pada seseorang yang ingin pinjam kepunyaan orang lain agar tidak seperti perilaku rusa kepada anjing tersebut.


Data No. 09

‘ncara bote, tongge lako’

(salah monyet, yang kalungin kayu panjang anjing)


Ungkapan di atas, menggambarkan sebuah kesalahan yang dibebani kepada orang lain, ungkapan tersebut yang menyamakan (simulasi) antara binatang dengan perilaku manusia. Ungkapan ini diambil dari cerita rakyat (dogeng) antara kedua binatang. Dimana dua ekor monyet (bote) dan anjing (lako) tersebut yang melakukan sebuah kesalahan, kesalahan dimaksud dalam cerita disini adalah si monyet yang salah akan tetapi anjing yang menjadi sasaran atau dikalungi kayu panjang (tongge). Ungkapan semacam ini di masyarakat Sai merupakan salah satu himbauan atau peneguran kepada seseorang yang tidak mau mempertanggungjawabkan atas kesalahanya, agar ia tidak melibatkan kesalahannya kepada orang lain.


Data No. 10

‘katenggo weki’

(memperkuat diri)


Penulis: Sofian, S. Pd

×
Berita Terbaru Update