Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Empat Basis Fundamental Harus disiapkan Dalam Mengahadapi Kemajuan Dunia Pendidikan

Sabtu, Oktober 02, 2021 | 19:25 WIB Last Updated 2021-10-02T11:28:13Z
Foto: Penulis A. Fandir.

Dalam paradigma A. Fandir, Dunia pendidikan saat ini semakin berkembang bahkan metode pembelajaran pun sudah banyak varian-variannya, untuk mengetahui sesuatu kita sudah tidak kesulitan  menemukannya akses pembelajaran semakin mudah dan fleksibel. 


Dalam upaya persiapan menuju bonus demografi 2030, peningkatan intelektual, metode terbarukan dan gagasan progresif harus terus ditumbuhkan untuk memperkuat tunas-tunas bangsa yang lebih siap melewati hambatan dan masalah bangsa yang akan terjadi di masa yang akan datang. 


Menurut A. Fandir yang juga Mahasiswa Penerima Beasiswa S2 di Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon (IAI BBC) ini. Empat basis fundamental yang harus disiapkan.


Pertama, Nasionalis Consciousness. Mahasiswa memiliki kesadaran nasional. Artinya, bahwa kita disini berjuang sehari-hari untuk meneruskan para pejuang dalam membangun peradaban daerah dan bahkan Indonesia secara bertahap tanpa harus mendisrupsi. 


Kedua, Religious Consciousness. Basis fundamental yang kedua adalah kesadaran religiusitas. Sebagai mahasiswa kita harus berangkat dari kejumudan keberagamaan yang muluk-muluk membicarakan perbedaan dan sensitif madzhab haru bisa secepat mungkin dari konflik ke harmoni. Basis ini menjadi salah satu yang kuat dalam wacana pengembangan dan pembangunan.


Ketiga, Science Consciousness. Basis fundamental yang ketiga adalah kesadaran sains, bahwa mahasiswa tentunya harus sadar akan kebutuhan ilmu pengetahuan sebagai basis yang fundamental dalam wacana pembangunan yang berdasarkan pengetahuan. 


Keempat, Culutural Consciousness. Yang terakhir basis fundamental mahasiswa harus memiliki kesadaran budaya dan tradisi daerah sendiri. Artinya tetap mempertahankan tradisi lama yang harus dijaga dan mengembangkan tradisi baru yang relevan tanpa menghilangkan nilai-nilai dan norma-norma yang ada di daerah sendiri.


A. Fandir yang juga aktif di Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) ini menguraikan, walaupun zaman sudah maju, tekhnologi sangat pesat dalam perjalanannya. Tetapi kita sebagai putra-putri daerah harus tetap bisa menjaga tradisi yang hidup dari zaman dahulu, tanpa mengganti dengan tradisi baru yang tidak baik untuk dikulturalisasikan.

×
Berita Terbaru Update