Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kisah Inspirasi Jainudin Anak Petani Jambu Mete, Kuliah Sambil Merintis Usaha Hingga Jadi Sarjana

Jumat, September 02, 2022 | 14:22 WIB Last Updated 2022-09-02T06:25:32Z
Foto: Jainudin, S. Sos didampingi istri dan putra tercintanya. 

GardaNTB.com, Kota Bima. -Gagal acap kali dipandang sebagai suatu ketidakberhasilan. Gagal juga selalu berpotensi untuk diungkit-ungkit sebagai suatu kesalahan dan menenggelamkan ‘pejuang’ dalam keterpurukan. Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi Jainudin, Wisudawan terbaik Non-akademik angkatan ke-54 Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Mbojo Bima Begitu keras asa perjuangan untuk menuju gerbang perkuliahan. Banyak ujian yang harus ia hadapi sebelum menyandang gelar sarjana pendidikan dengan prestasi membanggakan. 


Mengungkit masa lalu dan menengok ke belakang hendaknya selalu jadi pelajaran untuk membuka mata bagi kita yang masih berproses mencapai tujuan. Belajar dari seseorang yang telah berhasil adalah cara untuk membuat malas menjadi kerdil dan mengecil. Kali ini kita dapat belajar banyak hal dari kisah Jainudin yang juga merupakan anak lulusan tanpa besasiswa.


"Haru saat pengukuhan Wisudawan Terbaik Nonakademik Tingkat STISIP Mbojo-Bima, momen saat wisuda benar-benar sangat Bahagia. Selama 5 tahun perjalanan yang penuh dengan air mata, perjuangan, dan haru. Alhamdulillah bisa berakhir happy ending dalam acara wisuda...menahan air mata dan mencoba terlihat senyum di depan semua orang saat pengukuhan Wisudawan Terbaik Nonakademik Tingkat STISIP Mbojo-Bima".


Harapan yang menjadi benar-benar nyata bagi seorang anak petani, Segala kenangan, suka duka mulai perjuangan masuk perguruan tinggi STISIP Mbojo-Bima dan diterima hingga akhirnya skripsi. Sekali lagi ini merupakan sebuah harapan yang benar-benar menjadi nyata dan tidak menduga atas pencapaian saya sejauh ini. Ayah saya seorang pekebun jambu mete, hasil kebun jambu mete alhamdulillah sudah mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga menjadi Sarjana yaitu Jainab, S.Pd dan Sahrir, S.Ikom, namun sejak masuk PT. minyak Kayu Putih di desa kami, kebun jambu mete milik ayah saya dan warga lainnya di gusur habis.. Sehingga Mata pencaharian orgtua sudah tidak ada lg kini hanya menjadi peternak kambing.

Foto: Jainudin Bersama kedua orang tua dan Keponakannya. 

Sebelum menginjakan kaki di dunia civitas akademik. Saya tamatan SMA tahun 2011 menjadi pengangguran selama 5 tahun, selama 5 tahun saya bisa di katakan sebagai tulang punggung keluarga, dimana saat itu 2 org saudara saya sedang dalam proses perkuliahan satu di STKIP Bima dan satu di STISIP Mbojo Bima, Sudah barang tentu segala biaya pendidikan menjadi beban bagi kedua org tua saya, maka dari itu selama 5 tahun saya membantu org tua bertani sampai kedua saudara saya menyesaikan studi untuk mendapatkan gelar sarjana. 


Kemudian saya dan adik saya Sahrul Irawan sama-sama masuk kuliah lagi, saya di stisip dia di STIS juga di tambah lagu 2 orang adik saya arif rahman masuk kuliah di STIH Bima dan adelia Nurul Latifa di SMK Keperawatan di kota bima, orgtua kembali bersedih dan senda gurau memikirkan biaya perkuliahan dan sekolah anak-anaknya sementara kebun jambu mete yg menjadi pusat perekonomian keluarga sudah tidak ada yg di harapkan lagi. 


Namun saya tetap memberikan semangat kepada mereka agar bertawaqal dan berserah diri kepada Allah SWT. Dan saya hanya butuh Do'a saya dari mereka. Dengan begitu barulah ada sedikit ketenangan di raut wajah mereka, Suka duka perjalanan kuliah hingga peluang mengembangkan softskill Awal-awal saya kuliah di Jurusan Ilmu Administrasi dulu saya nggak menguasai banget keilmuan di Wirausaha. Pada saat semester 1 ada materi dasar-dasar komputer di mana materi kuliah itu tidak begitu saya kuasai karena pada saat SMP & SMA saya hanya bisa menghidupkan komputer. 


Kebetulan awal-awal aktif kuliah satu-satunya mahasiswa baru yang setiap kemana-mana bawa leptop hanya saya sendiri di tertawain, di ejek bahkan di bilang sombong dan sok-sok kan, namun saya tidak menghiraukan dan saya tetap optimis dengan pendirianku tak perduli dengan segala firman mereka yg maha benar. Tahun 2018 saya di ajak untuk ikut pelatihan Design Grafis, disitu saya di bina dasar-dasar desain grafis, Dari situ saya mendapat peluang, saya nggak harus fokus kuliah saya saja, saya ingin mengembangkan diri di luar kuliah atau nonakademik. Akhirnya saya bisa mengembangkan dan meng-upgrade softskill juga. Sehingga saya mampu merintis usaha saat kuliah. 


Semester 4 saya sempat berputus asa dan menunda kuliah bagaimana tidak, rumah kedua orgtua di tambora maupun di sangga dua-duanya hangus terbakar belum lama kejadian itu saya di berikan jodoh lg oleh Allah untuk menikah, mau tidak mau, suka tidak suka saya harus ikhlas dan terima kenytaan. Walau ujian dan musibah datang bertubi-tubi dan silih berganti saya tetap menguatkan hati bahwa ada harapan besar kedua orgtua yg belum saya tunaikan yaitu menyelesaikan studi perguran tinggi.


Berangkat dari itu dengan modal pelatihan yang pernah saya ikuti beberapa bulan yg lalu saya kembali bersemangat dan terus berikhtiar untuk mengembagkan potensi daam diri saya, bahwa suatu saaat saya pasti bisa mengjadi pengusaha sukses. Waktu terus berjalan, pernikahan masih muda, kuliah harus di selesaikan, usaha yang di rintis terus berkembang pesat dan alhamdulillah kedua adiksaya yang kuliah di STIH dan di SMK Keperawatan sama-sama mendapatkan Beasiswa. 

Menjadi seseorang yang unik dan berbeda dari pada mahasiswa lainnya Ibarat sebuah emas. Emas itu akan kelihatan apabila ia berbeda dengan lingkungan sekitarnya. Meskipun berada di timbunan lumpur, emas tetaplah emas, ia akan selalu berkilau dan bernilai. Untuk teman-teman Mahasiswa yg masih proses di dunia akademik, jadilah seseorang yang unik dan berbeda daripada mahasiswa lainnya, berbeda tidak selalu salah. Jangan takut pula dengan kegagalan karena kegagalan itu adalah sebuah bagian dari kesuksesan, jangan pula menyerah. Siapa tahu kegagalan selanjutnya akan membuka dan mengantarkan kita menuju secercah sinar kesuksesan.


Semoga selalu menginspirasi Mahasiswa lainya dan yakinlah kita memiliki kesempatan sukses yang sama. jhay telah membuktikan bahwa suatu keterbatasan dan kegagalan tidak menjadi sebuah penghalang untuk menjadi seseorang yang luar biasa asalkan terus berusaha, bersabar, berjuang, dan berdoa untuk menjadi seseorang yang tidak biasa-biasa saja. Semoga semakin banyak Mahasiswa STISIP Mbojo Bima yang senantiasa menorehkan prestasi-prestasinya, baik di bidang akademik maupun nonakademik.


Prestasi : 

1. Mejabat di Organisasi Nasional Sebagai Sekretaris Umum Pengurus Komisariat  Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) STISIP Mbojo Bima Masa Khidmat 2018-2019

2. Mejabat di Organisasi Nasional Sebagai Sekretaris Umum Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII BIMA) Masa Khidmat 2019-2021

3. Direktur UD. Ciwintara Computer dengan Bidang Usaha Percetakan & Sablon Sejak 2019 - Sekarang. 

×
Berita Terbaru Update