Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan Banner

 


Indeks Berita

Catatan Kepemimpinan di Soromandi "Aksi dan Aspirasi" (Opini Part I)

Senin, Januari 09, 2023 | 00:26 WIB Last Updated 2023-01-08T16:26:01Z
Foto: Penulis Ardiansyah.

GardaNTB.com, Bima. - Obsesi rakyat Soromandi mempunyai pemimpin yang intelektual, putra asli, piawai, penggerak inovatif dan berintergritas moral hanya sebatas pengharapan belaka. 


Pemimpin yang silih berganti tak ubah seperti anak di Taman Kanak-kanak yang berganti kursi Indah, kemudian di wisuda naik kelas. Hanya sebatas prosedur untuk naik tingkat jabatan menjadikannya elit dan hedonis. 


Harapan besarnya bukan sekedar menarik putra asli kemudian menjadi preseden buruk lahirnya "isu rasisme" Seolah-olah arogansi sukusime. 


Ambisi besarnya rakyat adalah dimana pemimpin yang hadir piawai mengatur ritme pembangunan, menjadi lokomotif untuk membawa gerbong perubahan bukan sebaliknya menjadi masalah yang aibnya ditanggung masyarakat. 


Kontek Perubahan yang diinginkan adalah hadirnya kepemimpinan sebagai penggerak sekaligus aktor kunci keberhasilan, pemimpin yang bisa mengkreasikan nilai terhadap pemerintahan yang dipimpinnya. 


Rakyat butuh pemimpin yang bukan asal-asalan, apalagi karbitan semisal pengalaman jabatan, pendidikan tinggi tanpa kejelasan prestasi. 


Rakyat butuh pemimpin yang kredibel (komitmen, integritas, kejujuran, konsisten dan berani memberikan reaksi kebijakan yang tepat dalam menghadapi keadaan krisis dialami rakyat. 


Rakyat butuh pemimpin yang memberikan nilai bagi pemerintahan dan masyarakat yang dipimpinnya. Yakni keteladanan, amanah dengan basis moral dan etika. 


Rakyat butuh pemimpin yang membuka mata masyarakat akan harapan dan tantangan di masa depan dan bagaimana secara bersama mengatasinya. 


Rakyat butuh pemimpin yang tidak akan berhenti sampai benar-benar memberi makna bagi masyarakatnya, bukan sekedar mencari cuan untuk kepentingan dan jabatan pribadi.


Sikap kritis masyarakat, Pemuda, dan Mahasiswanya jangan dibungkam dengan dalil pasal-pasal karet. Kita semua butuh ruang dialektika, menyalurkan aspirasi, rangkul dan ajak berkolaborasi. 


Sebagaimana cita-cita para Guru bangsa kita Ingin rakyat berkemajuan (Muhammadiyah) dan rakyat membangun peradaban (NU). Pikiran besar para pendiri bangsa ini harus bisa diterjemahkan oleh pemimpin tak terkecuali di Soromandi demi memakmurkan masyarakat. 


Wallahua'lam bissawab. 


Penulis: Oleh Ardiansyah Alumni Universitas Hamzanwadi Selong Lotim, Kader PMII/ Pemuda Biasa di Soromandi.

×
Berita Terbaru Update